Latest News

Film Surau dan Silek, Dua Unsur Pembentuk Karakter Budaya Masyarakat Minang

infonyabagus.com Film Surau dan Silek hadir untuk mengingatkan tentang budaya Minang yang telah lama ditinggalkan. Dimana Surau (tempat ibadah/masjid) dan Silek (silat) merupakan dua hal yang selama bertahun-tahun menjadi pembentuk karakter masyarakat Minang. Film Surau dan Silek ini Merefleksikan tiga hal yang tak terpisahkan dari masyarakat minangkabau yakni Shalat, Shalawat, dan Silat.

Dimana Shalat merupakan perkara yang pokok dalam Islam dimana ia merupakan tiang agama dan menjadi amalan pertama yang akan dihisab. Kemudian Shalawat merupakan aktivitas ibadah yang dilakukan setiap hari bagi umat Islam untuk senantiasa mengingat dan meneladani Nabi Muhammad Saw sebagai teladan terbaik dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian Silat bagi masyarakat Minang merupakan bagian dari Amar Ma'ruf Nahi Munkar. "Lahir silat mencari kawan. Batin silat mencari Tuhan."

Para tokoh asal Minangkabau yang mendominasi peradaban Indonesia mereka merupakan generasi yang hidup dalam didikan budaya Minangkabau yang tidak jauh dari Surau dan Silek.

Film Surau dan Silek menceritakan dari sudut pandang anak anak SD berusia 11 tahun serta seorang pensiunan dosen berumur 62 tahun. Selisih usia inilah yang membuat kontradiksi budaya tersebut semakin menarik.

Film Surau dan Silek dapat disaksikan di bioskop-bioskop tanah air.

Sinopsis

Adil (11th) adalah seorang anak yatim yang sangat menginginkan Ayahnya masuk surga dengan cara menjadi anak yang shaleh. Di saat yang bersamaan Adil juga sangat berambisi memenangkan pertandingan Silat di kampungnya.

Ambisi Adil ini di dasari oleh kekalahan yang di alaminya pada pertandingan periode sebelumnya. Adil di kalahkan oleh Hardi (11Th) dengan kecurangan. Namun hal ini tidak di akui oleh Hardi. Karena menurut Hardi, Adil hanya mencari-cari alasan atas kekalahannya. Teman seperguruan Adil yang juga merupakan sahabatnya; Dayat (11th) dan Kurip (11th) ikut mendukung upaya membalaskan dendam kekalahan tersebut. Dengan semangat yang tinggi mereka mempersiapkan diri menuju pertandingan berikutnya yang akan di adakan 6 bulan lagi.

Dalam masa persiapan tersebut tiga sekawan; Adil, Dayat dan Kurip mengalami berbagai rintangan; Mulai dari guru silat mereka Rustam (27) yang pergi merantau, keinginan Adil untuk menjadi anak shaleh yang kadang bertentangan dengan ambisinya, pertikaian yang terjadi di antara Tiga Sekawan dalam memandang makna silat, Hardi dan kawan-kawan yang selalu membully Adil, Dayat dan Kurip serta pencarian guru silat pengganti yang gagal disaat waktu menuju pertandingan terus berjalan. Rani (11th) merupakan teman sekolah Tiga sekawan (Adil, Kurip dan Dayat). Rani yang mengagumi Adil secara diam diam berusaha untuk mencarikan solusi terhadap kegalauan yang di hadapi oleh teman-temannya. Berkat usaha Rani inilah semua rintangan yang di hadapi oleh Tiga sekawan ini dapat teratasi. Berhasilkah Tiga Sekawan menemukan guru silat serta memenangkan pertandingan?

Berikut Trailernya:

0 Response to "Film Surau dan Silek, Dua Unsur Pembentuk Karakter Budaya Masyarakat Minang"